Pada sesi kali ini, penulis akan membahas tentang tata cara pengolahan data vektor yaitu pemotongan data vektor pada software ArcGIS. Pemotongan data vektor pada software ArcGIS dapat menggunakan 2 cara yaitu: Select by Attributes dan Clip.
Select by Attributes dapat dilakukan dengan cara memasukkan algoritma pada attribute table sehingga memotong bagian yang diinginkan atau yang tidak diinginkan. Metode Clip dapat digunakan apabila anda ingin memotong data vektor berdasarkan suatu data vektor lainnya.
Berikut adalah tata cara melakukan Select by Attributes pada Software ArcGIS:
Siapkan data vektor yang anda ingin potong (dalam kasus ini penulis menggunakan data vektor fishnet yang penulis gunakan dalam post sebelumnya)
Pada toolbar Editor > Start Editing
Pada Table of Content klik kanan pada data vektor yang ingin dipotong > Open Attribute Table
Pada Attribute Table > Table Option > Select by Attributes
Masukkan algoritma yang anda inginkan (dalam kasus ini penulis menggunakan “DEM”=0 or “DEM”=-9999 algoritma ini digunakan untuk menghilangkan data elevasi yang bernilai 0 dan -9999)
Klik Delete Selected
Berikut adalah hasil pemotongan data vektor menggunakan metode Select by Attributes:
Berikut adalah tatacara melakukan Clip pada software ArcGIS:
Siapkan data vektor dan data poligon yang akan anda gunakan
Pada Toolbar > Geoprocessing > Clip
Masukkan Input Features dengan data vektor anda > Clip features dengan shp garis pantai > Simpan pada lokasi yang anda inginkan
Berikut adalah hasil pemotongan data vektor menggunakan metode Clip:
Berikut adalah cara memotong data raster menggunakan data vektor dengan metode Extract by Mask pada software ArcGIS:
Siapkan data vektor yang telah terpotong
Pada ArcToolbox > 3D Analyst Tools > Raster Interpolation > Kriging
Masukkan Input point features dengan data vektor anda dan masukan z falue dengan data elevasi pada data vektor anda lalu OK
Berikut adalah hasil kriging yang telah dilakukan
Pada ArcToolbox > Spatial Analyst Tools > Extraction > Extract by Mask
Masukkan Input raster dengan hasil kriging yang telah anda lakukan dan input raster or feature mask data dengan data yang akan anda gunakan untuk memotong raster tersebut, lalu OK
Berikut adalah hasil pemotongan menggunakan Extract by Mask:
Effectiveness of DOS (Dark-Object Subtraction) Method and Water Index Techniques to Map Wetlands in Rapidly Urbanising Megacity with Landsat 8 Data
Sean Gilmore, Ashty Saleem, Ashraf Dewan
PENDAHULUAN
Lahan basah pada permukaan bumi kurang lebih adalah 6-9% (Zedler dan Kercher,2005). Peran lahan antara lain adalah menjaga kualitas lingkungan dan termasuk penyimpanan karbon terestrial di dunia. Selain itu, lahan basah juga berperan sebagai oasis di area perkotaan yang sangan penting guna mengurangi suhu udara pemukaan. Perubahan distribusi lahan basah baik karena faktor alam maupun buatan dapat memberikan efek yang signifikan pada ekosistem. Pemetaan yang akurat dan statistik pada area yang tepat sangat penting guna mencegah dalam pengelolan lahan basah.
Data satelit penginderaan jauh banyak digunakan untuk menggambarkan lahan basah di seluruh dunia dengan berbagai teknik, termasuk klasifikasi per-piksel (supervised classification), metode semi otomatis (image segmentation) dan spectral water index. Metode koreksi atmosfer memerlukan informasi in-situ, relative scattering correction berguna untuk mengatasi masalah hamburan (scattering) pada citra. Metode Dark Object Substraction (DOS) adalah teknik berbasis image untuk menghilangkan komponen kabut yang disebabkan oleh hamburan aditif (additive scattering) dari data penginderaan jauh (Chavez Jr, 1988).
Pada penelitian ini menggunakan daerah Dhaka, Bangladesh. Penelitian ini juga berguna untuk menganalisis kesesuaian indeks berbasis air dalam menilai spasial lahan basah di wilayah perkotaan yang mengalami urbanisasi yang cepat. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi secara signifikan terhadap basis pengetahuan yang ada di lokasi spasial lahan basah di area Rencana Pengembangan Metropolitan Dhaka (DMDP) yang merupakan unit perencanaan yang baru-baru ini dikembangkan oleh para pembuat kebijakan, menegakkan organisasi lokal untuk melestarikan ekosistem lahan basah yang tersisa.
Peta Lokasi area DMDP (Sumber : Google Earth)
PENGOLAHAN DATA
Citra yang digunakan berasal dari USGS Earth Explorer web service, dengan dua citra yang memiliki path-row 137-43 dan 137-44 sebagai area penelitian. Kedua citra tersebut dimosaik dan gambar yang dihasilkan dipotong sesuai area penelitian. Song dkk (2001) menjelaskan, pada citra Landsat, algoritma DOS mengasumsikan keberadaan ‘objek gelap’, yang memiliki piksel nol ke angka reflektansi sangat kecil sehingga nilai DN (digital number) minimum dalam histogram dianggap sebagai efek dari hamburan atmosfer dan dikurangi dari semua piksel pada citra, sehingga menciptakan “objek gelap” dengan nilai DN nol.
METODOLOGI
Dalam penelitian ini digunakan dua buah citra yaitu citra mentah dan citra yang telah tekoreksi DOS.
Normalised Difference Water Index (NDWI) dihitung menggunakan rumus yang diusulkan oleh McFeeters (1996):
NDWI = (Green Band – NIR Band) / (Green Band + NIR Band)
Dimana :
GREEN = Nilai reflektan kanal hijau 0,52 – 0,60 µm (Band 3)
NIR = Nilai reflektan kanal infra merah dekat 0,76 – 0,90 µm (Band 5)
Modified Normalized Difference Water Index (MNDWI) dihitung menggunakan rumus yang diusulkan oleh Xu (2006):
MNDWI = (Green Band – MIR Band) / (Green Band + MIR Band)
Dimana :
GREEN = Nilai reflektan kanal hijau 0,52 – 0,60 µm (Band 3)
MIR = Nilai reflektan kanal Inframerah gelombang menengah 1,55 – 1,75 µm (Band 6)
The Collective Indices classification dilakukan dengan menggunakan versi modifikasi dari formula yang dikembangkan Lu et al (2011). Pertama-tama, MNDWI digunakan karena lebih baik dalam mengekstraksi lahan basah dalam lingkungan yang didominasi perkotaan. Kedua, rumus tersebut dibalik dengan mengurangi NDVI dari MNDWI.
Collective Indices = MNDWI – NDVI
Dimana, NDVI dihitung menggunakan rumus yang diusulkan oleh Tucker (1979):
NDVI = (NIRBand – Red Band) / (NIR Band + Red Band)
Dimana :
NIR = Nilai reflektan kanal Inframerah gelombang dekat 0,76 – 0,90 µm (Band 5)
RED = Nilai reflektan kanal merah 0,63 – 0,69 µm (Band 4)
Automated Water Extraction Index (AWEI) dihitung menggunakan versi modifikasi dari formula non-shadow yang dikembangkan oleh Feyisa dkk (2014). Rumus yang telah dimodifikasi adalah:
AWEI = 4 x (Band 3 – Band 6) – (0.25 x Band 5 + 2.75 x Band 7)
Dimana :
BAND 3 = Nilai reflektan kanal hijau 0,53 – 0,59 µm (Green Band)
BAND 5 = Nilai reflektan kanal Inframerah gelombang dekat 0,85 – 0,88 μm (NIR Band)
BAND 6 = Nilai reflektan kanal Inframerah gelombang pendek 1.57 – 1.65 µm (SWIR1 Band)
BAND 7 = Nilai reflektan kanal Inframerah gelombang pendek 2.11 – 2.29 µm (SWIR2 Band)
HASIL DAN ANALISIS
MNDWI adalah indeks terbaik dengan akurasi keseluruhan baku / DOS sebesar 97.28 % / 98% dan nilai kappa lebih besar dari 0.9 yang efektif membedakan lahan basah di pusat perkotaan dan juga di daerah rawa.
Penilaian akurasi pada indeks. OA mununjukan untuk akurasi keseluruhan, PA menunjukan untuk akurasi produsen dan UA menunjukan untuk akurasi pengguna
Metode collective indices terbaik kedua dengan akurasi keseluruhan baku / DOS 96.57 / 97.86% dan nilai kappa lebih besar dari 0.89 serta mampu mengekstrak mayoritas daerah lahan basah rawa, namun salah mengklasifikasi beberapa piksel dalam area perkotaan.
AWEI adalah indeks berkinerja terbaik ketiga dengan akurasi keseluruhan mentah / DOS dari 94.85 / 96.86% dan nilai kappa lebih besar dari 0.84 tetapi salah mengklasifikasikan beberapa daerah perkotaan sebagai lahan basah.
NDWI adalah indeks berkinerja terburuk dengan akurasi baku / DOS 92.7 % / 92.86% dan nilai kappa lebih besar dari 0.7 cukup buruk dalam memisahkan daerah rawa daerah perkotaan.
Lokasi spasial lahan basahs menggunakan teknik rasio band yang berbeda:
(a) NDWI diproduksi dari raw citra
(b) NDI yang diklasifikasikan menggunakan ambang optimal
(c) Klasifikasi NDWI dari citra DOS
(d) Klasifikasi DOS NDWI menggunakan optimal threshold
(e) MNDWI yang dihasilkan dari citra raw
(f) Klasifikasi MNDWI menggunakan optimal threshold
(g) MNDWI dihasilkan dari citra DOS
(h) Klasifikasi DOS MNDWI menggunakan optimal threshold
(i) Metode Collective indices yang dihasilkan dari citra raw
(j) Metode klasifikasi Collective indices menggunakan optimal threshold
(k) Metode Collective indices yang dihasilkan dari citra DOS
(l) Metode Klasifikasi Collective indices DOS yang menggunakan optimal threshold
(m) AWEI dihasilkan dari raw image
(n) Classified AWEI menggunakan optimal threshold
(o) AWEI yang dihasilkan dari citra DOS
(p) Collective Indices DOS yang diklasifikasikan menggunakan optimal threshold
KESIMPULAN
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa efek hamburan atmosfer harus dihilangkan sebelum analisis dilakukan pada data Landsat 8. MNDWI ditemukan menjadi indeks yang cocok dan secara akurat menentukan lokasi spasial lahan basah di dalam area DMDP.
Pada sesi kali ini, penulis akan menjelaskan cara melakukan koreksi atmosfer metode 6SV (Seconds Simulation of a Satellite Signal in the Solar Spectrum – Vector) pada citra landsat 8. Metode 6SV ini dapat dilakukan melalui website http://6s.ltdri.org/. Berikut adalah cara melakukan koreksi atmosfer menggunakan metode 6SV pada citra landsat 8:
Submit > pada make your own atmospheric correction pilih Geometrical Condition
Step 1 > Geometrical Condition > User’s > Submit
Isi User’s Geometrical Condition sesuai dengan metadata citra anda, untuk bulan dan hari dapat dilihat pada Date Acquired dan Scene Center Time, Solar Zenithal adalah 90 – Sun Elevation, Solar Azimuthal adalah Sun Azimuthal, Sensor Zenithal adalah Roll Angle, dan Sensor Azimuthal dapat dilakukan pada website www.fcc.gov dengan mencari azimuth pada Corner UL Lat Long dan Corner LL Lat Long > submit
Berikut adalah data Roll angle, Sun azimuthal dan Sun Elevation
Berikut adalah Corner UL Lat Long dan Corner LL Lat Long
Step 2 > Atmospherical Model > Atmospherical Profile = Dipilih sesuai daerah yang anda pilih (dalam kasus ini penulis menggunakan Tropical karena penulis menggunakan citra Lombok) > Aerosol Model = Dipilih sesuai daerah yang anda pilih (dalam kasus ini penulis menggunakan Maritime Model karena penulis menggunakan citra Lombok) > Submit
Pada maritime model > Visibility (km) > nilai Visibility dapat dilihat pada www.wunderground.com > Submit
Konversikan nilai visibility yang anda dapat dalam satuan km
Step 3 > Target Sensor Altitude > Target altitude = Altitude (nilai altitude dapat dilihat pada BPS wilayah anda) > Sensor altitude = Satellite Level > Submit
Step 4 > Spectral Condition > Spectral Condition = same filter function=1 > Band = 1st band of tm (landsat 5) (0.430-0.560) > Submit
Isikan wavelength inf dengan nilai minimum wavelength band yang anda inginkan (dalam kasus ini band 1 landsat 8 adalah 0.435) > isikan wavelength sup dengan nilai maksimum band yang anda inginkan (dalam kasus ini band 1 landsat 8 adalah 0.451) > Submit
Specify surface reflectance = dipilih sesuai lokasi anda (dalam kasus ini penulis menggunakan mean spectral value of green vegetation karena sebagian besar area yang penulis gunakan adalah vegetasi) > Submit > Submit
Pada metode ini membutuhkan citra yang telah terkalibrasi radiometrik yang dapat dilihat pada post yang telah saya upload sebelumnya DOS. Setelah anda memiliki data radiance, selanjutnya saya akan memberikan tutorial koreksi atmosfer metode FLAASH.
Berikut adalah tutorial koreksi atmosfer metode FLAASH:
Pada menu toolbox cari FLAASH lalu pilih FLAASH Atmospheric Correction
Setelah menu FLAASH terbuka isikan Input Radiance Image dengan data radiance yang telah anda lakukan, lalu isikan lokasi penyimpanan anda hingga Rootname FLAASH file anda, lalu isikan Flight Date dan Flight Time sesuai metadata anda, pilih sensor type anda sesuai citra anda (dalam kasus ini penulis menggunakan Landsat-8 OLI), untuk memperoleh Ground Elevation (km) anda dapat membuka BPS daerah yang anda inginkan, klik Multispectral Settings
Pada jendela Multispectral Setting > Kaufman-Tanre Aerosol Retrieval > Assign Default Value Based on Retrieval Conditions pilih Over-Land Retrieval Standard (660:2100 nm) lalu OK > setelah muncul jendela FLAASH klik OK
Hasilnya adalah sebagai berikut
Untuk pengecekan pada toolbox cari Compute lalu pilih Compute Statistics
Pilih citra FLAASH anda lalu OK
Setelah muncul jendela Compute Statistics Parameters klik OK
Berikutlah hasil Compute Statistics tetapi hasilnya tidak sesuai karena nilai min tidak 0 dan maks tidak 1, maka perlu dilakukan perhitungan algoritma menggunakan band math
Pada toolbox cari Band lalu pilih Band Math
Masukkan rumus “(b1 le 0)*0+(b1 ge 10000)*1+(b1 gt 0 and b1 lt 10000)*float(b1)/10000” lalu OK
Pilih citra FLAASH anda > pilih lokasi penyimpanan anda > OK
Pada toolbox cari Compute lalu pilih Compute Statistics
Pilih citra hasil band math yang telah dilakukan anda lalu OK
Setelah muncul jendela Compute Statistics Parameters klik OK
Berikut adalah hasil Compute Statistics setelah dihitung menggunakan Band Math
Pada sesi kali ini penulis akan memanfaatkan data kontur yang telah kita buat pada post pembuatan kontur. Berikut adalah tutorial pembuatan Fishnet menggunakan software ArcGIS:
Munculkan citra DEM-SRTM dan Kontur yang telah dibuat
Pada Table of Content, klik kanan pada citra DEM-SRTM lalu pilih Properties > Symbology > atur Display Background Value : 0 dan ubah warnanya menjadi Hitam
Pada ArcToolbox pilih Data Management Tools > Sampling > Create Fishnet
Pada jendela Create Fishnet, pilih lokasi penyimpanan anda >pada kolom Template Extent (optional) pilih same as layer DEM.dat > isikan Number of Rows dan Number of Coloums sesuai yang anda inginkan (dalam kasus ini penulis menggunakan 50 pada keduanya), lalu OK
Berikut adalah hasil dari Fishnet
Pada ArcToolbox pilih Spatial Analyst Tools > Extraction > Extract Multi Values to Points
Pada jendela Extract Multi Values to Points, pilih hasil Fishnet_label anda untuk input point features > pilih DEM.dat untuk input raster lalu OK
Berikut adalah hasil Extract Multi Values to Points dapat dilihat pada Open Attribute Table pada Fishnet_label
Selanjutnya Start Editing dan hapus semua nilai ketinggian 0 untuk menghilangkan Fishnet diluar pulau lalu save editing
Berikut adalah hasil dari Editing pada Fishnet :
Berikut ini adalah tutorial pembuatan TIN menggunakan software ArcGIS :
Pada menu ArcToolbox pilih 3D Analyst Tools > Data Management > Tin > Create TIN
Pada jendela Create TIN, pilih lokasi penyimpanan anda > Pilih sistem koordinat yang anda gunakan (dalam kasus ini penulis menggunakan GCS_WGS_84 karena penulis ini menyamakan sistem koordinat dengan data DEM) > masukkan data kontur pada Input Feature Class (optional) lalu OK
berikut adalah hasil dari TIN menggunakan software ArcGIS :
Berikut ini adalah tutorial pembuatan Kriging menggunakan tools Geostatistical Analyst pada software ArcGIS :
Klik kiri pada Customize > Toolbars > Geostatistical Analyst
Letakkan tools Geostatistical Analyst sesuai keinginan anda > klik kiri pada Geostatistical Analyst > pilih Geostatistical Wizard
Pada Jendela Geostatistical Wizard lihat pada Geostatistical Methods > Kriging / CoKriging > isi data field dengan DEM.dat lalu next
Pada step 2 of 5 pilih Ordinary pada Kriging Type dan Prediction pada Output Surface Type lalu next
Pada step 3 of 5 lihat pada General > Variable diganti Covariance > lihat pada Model Nugget > Enable diganti True > Calculate Nugget > True > lihat pada Model #1 > Type diganti Spherical > Anisotropy diganti True > Calculate Partial Sill diganti True > lihat pada View Settings > Show search direction diganti True > Show all lines diganti True > next
Pada step 4 of 5 langsung saja klik next
Pada step 5 of 5 langsung saja klik next
Setelah mengisi kelima step tadi maka akan muncul Method Report yang berisikan tentang ringkasan dari pengaturan yang telah kita lakukan, apabila telah sesuai klik OK
Berikut adalah hasil dari Kriging menggunakan tools Geostatistical Analyst pada software ArcGIS :
Berikut adalah tutorial pembuatan Hillshade menggunakan software ArcGIS :
Pada menu ArcToolbox pilih 3D Analyst Tools > Raster Surface > Hillshade
Pada jendela Hillshade > isikan DEM.dat pada input raster > simpan sesuai keinginan anda (apabila terjadi kegagalan maka pindah lokasi penyimpanan anda) > OK
Berikut adalah hasil dari Hillshade menggunakan software ArcGIS :
Berikut adalah tutorial pembuatan Slope menggunakan software ArcGIS
Pada menu ArcToolbox pilih 3D Analyst Tools > Raster Surface > Slope
Pada jendela Slope > isikan DEM.dat pada input raster > simpan sesuai keinginan anda (apabila terjadi kegagalan maka pindah lokasi penyimpanan anda) > isikan PERCENT_RISE pada Output Measurement (optional) > OK
Berikut adalah hasil dari Slope menggunakan software ArcGIS :
Berikut adalah contoh pembuatan tampilan 3D menggunakan data Hillshade yang telah kita buat caranya adalah pada Table of Content > klik kanan pada layer Hillshade > Properties > Display > atur transparancy menjadi 60% >Apply > OK
Pastikan layer Hillshade diatas layer DEM, Slope, Kriging dan TIN > nyalakan hanya 2 kombinasi Layer (Hillshade + DEM, Hillshade + Slope, Hillshade + Kriging dan Hillshade + TIN). Sebagai hasilnya akan ditunjukkan pada puncak Gunung Rinjani tepatnya pada Danau Segara Anak seperti gambar-gambar dibawah ini :
Pada sesi kali ini akan dibahas tentang pembuatan kontur otomatis menggunakan DEM-SRTM yang telah di download pada USGS. DEM-SRTM tersebut memiliki resolusi sebesar 30 meter. Selain dapat menggunakan DEM-SRTM milik USGS kita juga dapat menggunakan DEMNAS yang dapat kita download pada DEMNAS-BIG. DEMNAS adalah data DEM yang dimiliki oleh BIG dengan beberapa sumber data mulai dari IFSAR yang memiliki resolusi 5 m, Terrasar X yang memiliki resolusi 5 m dan ALOS PALSAR yang memiliki resolusi 11.25 m. Untuk info lebih lengkap mengenai DEMNAS dapat anda akses pada DEMNAS-BIG. Sebelum kita mencoba membuat kontur dari DEM-SRTM, mari kita pelajari terlebih dahulu apa itu DEM, DTM, DSM.
DEM (Digital Elevation Model)
DEM adalah data digital yang menggambarkan geometri dari bentuk permukaan bumi atau bagiannya yang terdiri dari himpunan titik-titik koordinat hasil sampling dari permukaan dengan algoritma yang mendefinisikan permukaan tersebut menggunakan himpunan koordinat (Tempfli, 1991).
DEM merupakan suatu sistem, model, metode, dan alat dalam mengumpulkan, prosessing, dan penyajian informasi medan. Susunan nilai-nilai digital yang mewakili distribusi spasial dari karakteristik medan, distribusi spasial di wakili oleh nilai sistem koordinat horisontal X Y dan karakteristik medan diwakili oleh ketinggian medan dalam sistem koordinat Z (Frederic J. Doyle, 1991).
DEM khususnya digunakan untuk menggambarkan relief medan. Gambaran model relief rupabumi tiga dimensi (3 dimensi yang menyerupai keadaan sebenarnya di dunia nyata (real world) divisualisaikan dengan bantuan teknologi komputer grafis dan teknologi virtual reality (Mogal, 1993).
Contoh DEM yang dihasilkan oleh DEMNAS BIG
DEM dapat diekstrak datanya untuk menampilkan perspektif 3D, kontur, kelas elevasi, profil, efek bayangan (hillshading), kemiringan lereng (slope), aspek permukaan, galian-timbunan, dll. DEM dapat digunakan untuk analisis medan (topografi), koreksi citra radar karena pengaruh layover pada medan perbukitan, dan visualisasi untuk penggambaran medan.
DTM (Digital Terrain Model)
DTM adalah singkatan dari Digital Terrain Model atau bentuk digital dari terrain (permukaan tanah, tidak termasuk objek diatasnya) DTM menampilkan data yang lebih lengkap dari DEM. DTM digambarkan sebagai tiga representasi dimensi permukaan medan yang terdiri dari X,Y, Z koordinat disimpan dalam bentuk digital yang tidak hanya mencakup ketinggian dan elevasi unsur – unsur geografis lainnya dan fitur alami seperti sungai, jalur punggungan, dll DTM secara efektif DEM yang telah ditambah dengan unsur-unsur seperti breaklines dan pengamatan selain data asli untuk mengoreksi artefak yang dihasilkan dengan hanya menggunakan data asli. Dengan meningkatnya penggunaan komputer dalam rekayasa dan pengembangan cepat tiga dimensi grafis komputer DTM menjadi alat yang ampuh untuk sejumlah besar aplikasi di bumi dan ilmu teknik.
DSM (Digital Surface Model)
DSM adalah digital surface model atau dapat diartikan sebagai model permukaan digital. DSM juga merupakan model elevasi yang menampilkan ketinggian permukaan, jika DTM hanya menampilkan ground (permukaan tanah tanpa apapun yang diatasnya) maka DSM menampilkan bentuk permukaan apapun yang ada seperti ketinggian pohon, bangunan dan objek apapun yang ada diatas tanah.
Perbandingan DSM dan DTM
SRTM (Shuttle Radar Topography Mission)
SRTM adalah sebuah citra yang memiliki data elevasi resolusi tinggi merepresentasikan topografi bumi dengan cakupan global (80% luasan dunia). Data SRTM adalah data elevasi muka bumi yang dihasilkan dari satelit yang diluncurkan NASA. Data ini dapat digunakan untuk melengkapi informasi ketinggian dari produk peta 2D, seperti kontur dan profil. Ketelitian ini dapat mencapai 15 m dan berguna untuk pemetaan skala menengah sampai skala tinggi (Lili somantri). SRTM 30 meter dapat kita download secara gratis dan dapat digunakan untuk berbagai pekerjaan yang berkaitan dengan ketinggian dengan sangat baik, misal membuat slope, kontur, TIN, aspec, flow accumulation, sungai, DAS dan lain-lain.
Contoh DEM-SRTM
Setelah mempelajari dasar ilmu DEM, DEMNAS, DSM, DTM dan SRTM sekarang kita akan memulai untuk membuat kontur menggunakan data DEM-SRTM 30 menggunakan software ENVI dan dilanjutkan oleh ArcGIS dalam pembuatan konturnya.
Berikut adalah tahapan untuk melakukan percobaan ini :
Buka citra DEM-SRTM yang telah anda download pada software ENVI, (dalam kasus ini penulis menggunakan 2 citra DEM SRTM yang bersebelahan karena lokasi yang menjadi subjek penulis berada di 2 citra DEM-SRTM yang berbeda sehingga perlu disatukan terlebih dahulu kedua citra tersebut) apabila anda tidak mengalami masalah tersebut anda bisa langsung lewati hingga nomor 9
Pada menu Toolbox tuliskan Mosaicking, lalu pilih Pixel Based Mosaicking
Klik import > import file
Pilih 2 citra SRTM yang bersebelahan tersebut dengan cara tahan shift lalu klik kiri pada citra 1 lalu klik kiri lagi pada citra 2, lalu OK
Setelah muncul jendela berikut, isikan mosaic Xsize dengan 7202 dan mosaic Ysize 3601, lalu OK
Sesuaikan posisi citra dengan cara tahan klik kiri pada salah satu citra lalu ditarik ke kanan sehingga terbentuk sesuai yang diinginkan
Jika sudah sesuai, klik File > Apply > Simpan sesuai keinginan > OK
Hasilnya adalah sebagai berikut :
Masukkan vektor batas wilayah/ batas administrasi/ garis pantai (dalam kasus ini penulis menggunakan garis pantai) sehingga berpotongan dengan citra SRTM tersebut
Buat ROI dengan cara klik File > New > Region of Interest
Setelah muncul jendela berikut Klik File > Import
Pada bagian Select Input File pilih vektor yang anda gunakan lalu OK
Setelah terbentuk ROI pada citra SRTM anda, selanjutnya pada menu Toolbox tuliskan Subset Data dan pilih Subset Data from ROIs
Pilih citra SRTM anda (dalam kasus ini penulis menggunakan citra yang penulis telah gabungkan pada tahap-tahap awal) lalu OK
Pada jendela Spatial Subset via ROI Parameter, pilih ROI yang telah anda buat > ubah Mask pixel output of ROI menjadi Yes > Simpan sesuai keinginan > OK
Hasilnya adalah sebagai berikut
Buka software ArcGIS dan Inputkan hasil Subset ROI yang telah dilakukan sebelumnya, lalu pada menu ArcToolbox > 3D Analyst Tools > Raster Surface > Contour
Pada bagian input, isikan hasil Subset ROI anda, lalu pilih lokasi penyimpanan anda dan isikan Contour Interval sesuai kebutuhan anda (dalam kasus ini penulis melakukan percobaan dengan Contour Interval 15 dan 30) lalu OKCon
Contour Interval 15m
Berikut adalah tahapan untuk melakukan koreksi atmosfer menggunakan metode DOS pada citra landsat 8
Buka citra .MTL pada citra landsat anda
Pada menu toolbox, carilah Radiometric Calibration lalu klik 2 kali
Pilih citra multispektral anda lalu OK
Pilih Calibration Type anda dengan reflectance, lalu pilih Output interleave anda dengan BIL atau BIP dan simpan output pada lokasi yang anda inginkan, lalu OK
Lakukan step 2-5 dengan memilih radiance pada Calibration Typenya
Hasilnya akan seperti berikut
Hasil Radiometric Calibration Type Radiance
Hasil Radiometric Calibration Type Reflectance
Pada menu toolbox, carilah Dark Subtraction lalu klik 2 kali
Pada kolom input file, pilih hasil radiance anda lalu OK
Pada Subtraction Method pilih band minimum, lalu simpan sesuai keinginan dan klik OK
Lakukan step 8-10 dengan memilih reflectance pada input filenya
Dalam pembuatan peta skala 1 : 5000 menggunakan citra satelit, membutuhkan citra yang minimal resolusi spasialnya adalah 50cm. Data yang digunakan dalam pembuatan peta tersebut haruslah data yang posisinya berada di atas permukaan bumi. Sedangkan citra satelit sendiri adalah data yang posisinya berada di luar angkasa. Untuk mendapatkan data yang posisinya berada diatas permukaan bumi maka perlu dilakukan koreksi radiometrik.
Koreksi radiometrik adalah untuk memperbaiki nilai piksel supaya sesuai dengan yang seharusnya, biasanya mempertimbangkan faktor gangguan atmosfer sebagai sumber kesalahan utama. Efek atmosfer menyebabkan nilai pantulan obyek dipermukaan bumi yang terekam oleh sensor menjadi bukan merupakan nilai aslinya, tetapi menjadi lebih besar oleh karena adanya hamburan atau lebih kecil karena proses serapan. Kondisi kecerahan data citra selain pengaruh dari kondisi dan efek atmosfir, juga dipengaruhi oleh sudut sinar matahari dan sensitifitas sensor.
Ilustrasi Efek Atmosfer Pada Danau Kasumigaura (Jaelani, L. M., 2018)
Gambar diatas menjelaskan bahwa garis putus-putus biru adalah data yang diperoleh oleh satelit (Top of Atmosphere), sedangkan garis hijau adalah data yang diinginkan (Bottom of Atmosphere). Untuk merubah data ToA menjadi data BoA maka diperlukan koreksi atmosfer sehingga efek atmosfer dapat dihilangkan.
Dalam proses koreksi radiometrik, terdapat 2 tahapan yaitu kalibrasi radiometrik dan koreksi atmosfer. Kalibrasi radiometrik adalah proses mengubah data pada citra yang (pada umumnya) disimpan dalam bentuk Digital Number (DN) menjadi radiance dan/atau reflectance. Sedangkan koreksi atmosfer adalah proses menghilangkan pengaruh atmosfer (molekul dan partikel) yang ikut serta menghamburkan sinyal sebelum direkam oleh sensor penginderaan jauh (pasif).
Dalam melakukan koreksi atmosfer sederhana, kita dapat menggunakan 2 metode yaitu metode DOS (Dark Object Subtraction) dan metode Radiative Transfer 6SV (Second Simulation of a Satellite Signal in the Solar Spectrum – Vector).